

SULIT melapal kata suggestion ? Atau bingung mengeja kata improvement ? Coba belajar dengan metode Blended Learning Method !.
Bukan rahasia umum lagi, jika bahasa Inggris sekarang menjadi bahasa komunikasi sehari-hari di antara kita. Fasih cas cis cus dalam berbahasa Inggris tidak lagi di dominasi oleh kalangan pelajar atau eksekutif saja, tapi saat ini fasih berbahasa Inggris telah mencakup semua lini pekerjaan. Bahkan untuk ibu rumah tangga sekalipun, sekarang kudu pintar berbahasa Inggris, supaya tampil pede mendampingi suami tentunya !.
Tapi, jangan salah ! Belajar bahasa Inggris di mata sebagian orang ternyata tidak semudah laiknya berbicara dalam bahasa Indonesia. Banyak orang yang merasa agak kesulitan untuk melapal atau mengeja dalam berbahasa Inggris. Lucunya lagi, banyak orang yang ternyata lebih mudah melafal lagu-lagu dalam bahasa Inggris ketimbang lancar dalam berbicaranya !
Lalu, gimana dong supaya bisa lancar dan paham dalam berbahasa Inggris ?. Mudah saja, coba teknik pengajaran Blended Learning Method dari Wall Street Institute (WSI). Seperti apa sih metodenya ?
"Konsep Blended Learning Method (BLM) ini adalah teknik pengajaran yang mengkombinasikan teknologi multimedia, kelas kecil, pengajar native dan aktifitas sosial (lifestyle). Metode ini sudah terbukti efektif 97 persen sejak 35 silam pada 350 pusat Wall Street Institute (WSI) yang tersebar di 27 negara," kata Presiden Direktur WSI Indonesia, William JG Daniel kepada rileks.com beberapa waktu lalu.
Prinsip dari konsep BLM adalah melihat pada kemampuan mendengar. Karena Kemampuan mendengar adalah indera pertama yang paling efektif untuk mempelajari bahasa baru.
"Seperti bayi, mereka menggunakan indera pendengaran untuk mempelajari kata dan kalimat baru, lalu si bayi akan melakukan pengulangan hingga mampu melakukan afirmasi dan bicara," jelasnya.
Hal ini pun diperjelas oleh Andre Whitmarsch, selaku Service Manager WSI di Indonesia, menurutnya, pada sebagian orang mengucapkan lirik lagu bahasa Inggris lebih mudah dibanding ngobrol dalam bahasa Inggris. Ini menunjukan bahwa kemampuan mendengar berperan penting pada tahap awal proses belajar atau menerapkan informasi bahasa asing.
Belajar Blended Learning Methode sendiri terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama adalah mulai dengan menjalani pembelajaran di multimedia lab, di mana siswa akan dites listening, repeating, reading, speaking, confirm, dan writing, melalui software khusus. Pada tahap kedua, siswa akan mendapat buku panduan belajar (student manual).
"Dengan menggunakan buku tersebut, siswa akan mempelajari kembali pelajaran yang disampaikan dalam kelas dan melatih sendiri kemampuan bahasa Inggrisnya," paparnya.
Pada tahap ketiga, sambungnya, siswa akan masuk ke encounter class, yaitu kelas pertemuan dengan native speaker sebagai pengajar, yang dilaksanakan setiap unit pelajaran. Di encounter class hanya terdiri maksimal empat siswa.
"Ini kita namakan kelas gaul. Karena disini antar siswa dan guru harus aktif berbicara dalam bahasa Inggris. Jika siswa yang hadir hanya satu, kelas akan tetap berjalan seperti biasa. Itulah komitmen WSI untuk selalu menjadi partner bagi siswanya agar setiap saat dapat meningkatkan perkembangan bahasa Inggrisnya."
Salah satu kelemahan orang Asia, termasuk Indonesia, adalah kurang berani atau kurang pede berbicara dalam bahasa Inggris. Padahal jika dalam suasana dan lingkungan yang santai dan ramah sebagaian besar dari mereka memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang asing. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa penerapan aktivitas sosial dapat mempengaruhi keberanian siswa untuk lebih berani berlatih dalam menggunakan bahasa asing, imbuh Andrew.
Satu hal yang mungkin dapat dijadikan referensi adalah dalam menerapkan konsep BLM ini, WSI menerapkannya dalam bentuk konsep lifestyle. Artinya dalam setiap elemen pengajarannya, WSI memperhatikan secara detail apa yang menjadi keinginan seseorang.
Mulai dari suasana kelas yang terkesan familiar, waktu yang fleksibel untuk para siswa, serta atmosphere ruang belajar yang memang sengaja khusus dirancang agar setiap siswa yang datang mampu berinteraktif dalam berkomunikasi dengan siapa saja.
Tidak hanya itu saja, lanjut Andrew, WSI juga memiliki
complementary class yaitu kelas tambahan dari pengajar agar dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.
Disini, yang menjadi kekuatan pengajaran, tidak hanya mampu berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi juga bagaimana seseorang itu mampu berinteraksi dengan orang lain dalam bahasa Inggris. Kalau kurang pede, atau tidak yakin ada kelas tambahan dari pengajar yang notabene adalah native speaker dari Amerika Serikat, Inggris, New Zealand, Australia, dan Kanada .
"Tujuannya, ya.... itu tadi, Anda diharapkan makin lancar dalam berbahasa Inggris. Andai anda tekun, paling lama tiga tahun, Bahasa Inggris nya sudah cas cis cus layaknya berbicara dalam bahasa Indonesia," tegasnya
Khusus untuk menunjang interaksi sosial antara siswa, WSI memiliki fasilitas social club, sebuah area lingkungan yang dikonsep bergaya cafe dan lounge, wadah berinteraksi dan berkomunikasi antar siswa dengan aktifitas yang unik dan interaktif . Misalnya seperti pesta tematik yang rutin diadakan setiap bulannya.
Satu keunikan dari WSI adalah, kalau metode pengajaran BLM ini dikhususkan untuk kalangan dewasa mulai dari umur 19 tahun hingga 35 tahun.
"Target kami yang belajar di sini adalah orang dewasa berusia 21 sampai 35. Bukan untuk anak-anak !. Ini disebabkan karena metode pembelajarannya sendiri hanya bisa diterima oleh orang dewasa ketimbang anak-anak," katanya sambil menginformasikan harga per level kursus di WSI, yakni kisaran sekira Rp 900.000 sampai Rp 1.000.000.
Nah, mau tampil pede dan cas cis cus dalam berbahasa Inggris ? Tidak ada salahnya untuk mencoba metode Blended Learning Methode dari Wall Street Institute ini. Tinggal klik..... , kita akan mampu mengeja dan fasih berbicara dalam bahasa Inggris !. (lily)