|
29 Jul 2009 |
Pengulangan antibiotik untuk mengobati infeksi akut di telinga anak-anak akan meningkatkan risiko infeksi telinga berulang sebesar 20 persen, demikian menurut para peneliti di Belanda yang menyerukan agar lebih berhati-hati dalam penggunaan antibiotik bagi anak-anak.
Para peneliti menemukan bahwa 63 persen dari anak-anak diberikan antibiotik amoksisilin mengalami infeksi telinga berulang dalam tiga tahun, dibandingkan dengan 43 persen dari anak-anak diberikan plasebo pada saat mereka awal infeksi.
Temuan tersebut berasal dari sebuah survei 168 orang tua dari anak-anak, 6 bulan sampai 2 tahun, yang ikut ambil bagian dalam sebuah kajian mengenai penggunaan antibiotik untuk mengobati infeksi telinga. Hasil studi diterbitkan pada jurnal BMJ edisi online 1 Juli 2009.
Pada grup diberikan amoksisilin, 47 dari 75 anak-anak paling sedikit mengalami infeksi telinga berulang sebanyak 1 kali, dibandingkan dengan 37 dari 86 anak-anak dalam kelompok plasebo. Hal ini setara dengan 2,5 kali lebih tinggi risiko infeksi telinga berulang untuk kelompok amoksisilin.
Namun demikian, studi ini juga menemukan bahwa 30 persen anak-anak dalam kelompok plasebo menjalali operasi telinga, hidung dan tenggorokan setelah terkena infeksi awal, dibandingkan dengan 21 persen di kelompok amoksisilin.
Semakin tinggi tingkat pengulangan di kalangan anak-anak yang menggunakan amoksisilin dapat disebabkan karena melemahnya sistem kekebalan alami tubuh mereka sebagai akibat dari penggunaan antibiotik pada tahap awal infeksi, kata para peneliti. Antibiotik digunakan dalam kasus seperti itu dapat menyebabkan 'arah yang tidak diharapkan' terhadap perkembangan bakteri resisten.
Antibiotik dapat mengurangi lama dan parahnya infeksi telinga, tetapi juga dapat menghasilkan infeksi berulang dalam jumlah yang lebih tinggi dan resitensi antibiotika.Karena itu, para dokter harus berhati-hati dalam penggunaan antibiotika pada anak-anak dengan infeksi telinga.(yon/foto:blogspot)
 |