You are here > Home ENTERTAINMENT Movie ShowBizz Ide Cerita Sinetron Indonesia Harus Nyata dan Sederhana
Fri 03 Sep 2010
Ide Cerita Sinetron Indonesia Harus Nyata dan Sederhana PDF Print E-mail
09 Dec 2007
Sinetron kini tidak lagi hanya sebagai satu konsumsi tontonan murahan belaka. Saat ini, masyarakat Indonesia mulai kritis dan selektif dalam memilih tontonan yang ingin ditontonnya. Cerita-cerita bombastis dan konsumtif mulai ditinggalkan penonton Indonesia, kata Manoj Pundjabi, produser dari rumah produksi MD Entertainment kepada rileks.com, Jumat, 7/12-2007.

"Saat ini, mind set penonton tidak melulu terpaku pada tingginya rating atau artis yang membintangi sebuah sinetron. Penonton sekarang sudah lebih pintar dan arif dalam memilih tayangan yang ingin ditontonnya. Realitas kehidupan sehari-hari yang diangkat menjadi tema cerita dalam satu sinetron kini menjadi incaran dan mulai digemari oleh penonton," ungkap Manoj Pundjabi lebih lanjut.

Adanya perubahan pola tonton ini lah yang mau tak mau mendorong tim kreatif dari sebuah rumah produksi harus bekerja keras untuk menciptakan ide cerita terbaik sebuah sinetron. Makin kuat konsep cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari, makin tinggi penonton yang akan menonton sinetron tersebut.

"Kalau nggak mau ditinggal penontonnya, sinetron sekarang harus kuat dalam penggarapan dan ide cerita. Cerita satu sinetron kini tidak lagi bersumber dari khayalan atau angan-angan penulis, tapi diambil dari realitas kehidupan sehari-hari. Makin nyata cerita yang ditampilkan, makin banyak penonton yang akan menonton sinetron itu."

Untuk itulah, dalam penggarapan sinetron-sinetron serta film layar lebar dari rumah produksinya, Manoj, kerap melakukan sendiri riset dan survey animo penonton, untuk mendapatkan ide cerita yang bermutu.

"Dari hasil pengamatan, penonton sekarang makin jeli dan care terhadap satu tontonan. Mereka nggak butuh cerita yang muluk-muluk. Yang ringan-ringan saja ide ceritanya, malah banyak diminati penonton. Makin nyata dan mendekati kehidupan sehari-hari tampilan ide cerita yang diambil, makin banyak penonton yang antusias."

Dengan satu catatan, kata Manoj, sinetron itu juga tidak boleh terlalu lama episodenya. Karena akan membuat jenuh penonton. Dan memberi kesan bertele-tele atau cerita dibuat-buat. Semua harus simpel dan sederhana pembuatannya. Contohnya, kata Manoj Punjabi, seperti sekuel sitkom, Friends, Sex & City, Desperate Housewives.

" Friends, Sex & City, Desperate Housewives, mampu bertahan lama karena mampu membaca keinginan penonton. Dan ide cerita yang ditampilkannya juga simpel dan sederhana. Pada akhirnya penonton juga jadi ketagihan untuk menonton terus sinetron tersebut. Kalau kita sudah mampu mengadaptasi apa yang sudah dilakukan oleh rumah produksi film-film tersebut di atas, bukan satu hal mustahil sinetron Indonesia bisa jadi trendsetter, dan go international," pungkas Manoj. (lily/foto:lily)
 

Rileks Gallery

 

Kampusiana

Calon Mahasiswa Asal Malaysia Tidak Boleh Kuliah di UMM

Penolakan terhadap mahasiswa Malaysia yang ingin masuk FK tersebut juga berlaku bagi mahasiswa asing lainnya...


Lainnya

Polling

Apa sih referensi paling kuat buat kamu untuk beli produk baru!
 

Media Sindikator

Gen FM JAK FM Parents Mahaka Media