Indonesia kembali kehadiran film yang mengangkat nilai-nilai sosial budaya di masyarakat yaitu Sang Penari. Film ini mengambil latar belakang tahun 1960-an dan sebuah film yang terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Film yang dibesut oleh sutradara Ifa Isfansyah dan skenarionya ditulis oleh Salman Aristo ini konsisten memilih untuk dengan indah bertutur tentang cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Indonesia.

Adegan Srintil Saat Menari Ronggeng
Berkisah tentang Rasus, seorang tentara muda menyusuri kampung halamannya, mencari cintanya yang hilang, Srintil. Cerita berawal ketika keduanya masih sangat muda dan saling jatuh cinta di kampung mereka yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk. Tapi sesuatu menghalangi cinta mereka, karena kemampuan menari Srintil yang magis, membuat para tetua dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng. Dan ketika Srintil menyiapkan diri untuk tugasnya, ia menyadari bahwa menjadi seorang ronggeng tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuhnya di pentas-pentas tari. Srintil akan menjadi milik semua warga Dukuh Paruk. Hal ini menempatkan Rasus pada sebuah dilema. Ia merasa cintanya telah dirampas dan dalam keputusasaan, ia meninggalkan dukuhnya untuk menjadi anggota tentara. Lalu jaman bergerak, di mana Rasus harus memilih; loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.
“Saya tidak keberatan sama sekali dengan interpretasi ini,” ujar Ahmad Tohari, selaku penulis novelnya yang lebih akrab dipanggil Kang Tohari di acara press confrence film Sang Penari di Fx Plaza, Jakarta.“Sejak awal saya sudah katakan pada mereka (Ifa, Salman dan Shanty) bahwa mereka bebas untuk mengkreasikannya menjadi film. Ketika difilmkan, itu sudah menjadi kreasi, karya mereka. Karya dan tanggung jawab saya sebatas novelnya. Mereka yang jauh lebih tahu untuk urusan film,” imbuh Kang Tohari.

Pencarian Rasus Terhadap Cinta Sejatinya
“Kebebasan dan kepercayaan luar biasa dari Kang Tohari memang membuat kami sangat bersemangat sejak awalnya sekitar 4 tahun lalu ketika pertama kali bertemu, namun sekaligus menantang kami bertiga untuk bisa menghadirkan kisah ini pada konteks kekinian. Bertahun-tahun kami berdiskusi, melakukan brain storming, mengendapkan lagi semuanya, diskusi lagi, menuliskannya, dimana penulisan skenario memakan waktu hingga 2 tahun sampai akhirnya mengerucut dan bulat hati untuk memilih pada kisah cinta Srintil dan Rasus,” jelas Shanty Harmayn yang sekaligus sebagai produser film ini.
“Secara sederhana tetapi begitu dalam, kisah cinta Srintil dan Rasus menginspirasi kita di masa sekarang ini bahwa cinta sesungguhnya berarti rela berkorban, mengatasi dan melampaui berbagai cobaan bahkan tak lekang waktu, walaupun pilihan-pilihan yang terpaksa dibuat karena tekanan zaman tak selalu berpihak pada dua insan yang saling mencinta,” ungkap Ifa. (PR/Dod)
