|
06 Aug 2009 |
Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional tahun 2009 serta Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64, Pusat Alat Bantu Dengar Melawai (PABD Melawai) hari ini menyumbangkan 100 buah Alat Bantu Dengar (ABD) kepada para penyandang tunarungu yang kurang mampu sebagai bentuk kepedulian PABD Melawai kepada mereka.
Bertempat di Gedung Melawai Group, bantuan yang diberikan kepada 80 orang anak berusia 4–18 tahun dan 20 orang dewasa usia 20–50 tahun ini dilaksanakan di hadapan perwakilan dari Dinas Sosial serta undangan lainnya. Pemberian bantuan ini hasil kerjasama PABD Melawai dengan Siemens Hearing Instruments Inc–produsen Alat Bantu Dengar terkemuka dan terbesar di Jerman serta Federasi Nasional untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (FNKTRI) sebagai pihak yang membantu mencarikan calon penerima bantuan ABD ini, sehingga bantuan dapat diterima oleh mereka yang betul-betul membutuhkan.
"Dasar pertimbangan memberikan bantuan terutama kepada anak-anak usia sekolah karena ABD sangat mereka butuhkan dalam proses kegiatan belajar mengajar setiap hari," jelas Priscilla R.K. Bahana – Direktur Pusat Alat Bantu Dengar Melawai. "Seperti kita ketahui, pengembangan bahasa sangat diperlukan agar mereka mampu berprestasi dan mandiri seperti anak-anak normal, sehingga mereka pun dapat mengembangkan seluruh potensi akademik, disamping tentunya kemampuan lainnya, seperti kemampuan bersosialisasi," tambah Priscilla.
Mengenai kriteria pencarian pihak yang berhak mendapatkan Alat Bantu Dengar ini, Drs. Totok Bintoro M.Pd, Ketua FNKTRI menjelaskan, bantuan ini diberikan kepada yang benar-benar kurang beruntung dalam segi ekonomi yang terdiri dari anak-anak sekolah dan usia remaja."
"Gangguan pendengaran bukan aib dan bukan akhir segalanya," tegas Drs. Anton Subarto, Dipl Aud–audiologist dan pakar pendidikan anak tunarungu dari PADB Melawai. "Namun jika insan-insan tunarungu ini tidak mendapatkan habilitasi dan rehabilitasi dengan tepat dan semestinya seperti: pemeriksaan pendengaran yang tepat, pemasangan alat bantu dengar yang tepat serta pendidikan yang tepat dengan mengembangkan kemampuan bahasa oral aural dengan baik, mereka akan tetap menjadi manusia bisu."
Lebih lanjut, Anton menambahkan, bahwa sebaliknya dengan pelayanan habilitasi rehabilitasi yang tepat--seperti pemasangan dan penggunaan alat bantu dengar dengan tepat, nantinya mereka akan mampu berkomunikasi secara oral dan aural dengan baik dan mencapai prestasi akademik yang tidak kalah dengan teman-temannya yang normal.
Dengan pendidikan yang tepat dan memakai ABD yg tepat, salah satu penerima bantuan alat bantu dengar bernama Paulus Ganesha - penyandang tuli sejak lahir dapat menyelesaikan pendidikan Sarjana di Universitas Budi Luhur jurusan Sistem Informasi setelah lulus dari SMA Luar Biasa Pangudi Luhur dan sekarang ia telah bekerja sebagai tenaga Middle Java Developer (J2EE) di sebuah perusahaan asing. Paulus adalah salah satu bukti nyata bahwa penyandang tunarungu bukanlah manusia yang tidak dapat berprestasi dan mempunyai masa depan.(PR/yon)
 |