Beberapa waktu lalu, seorang sahabat mengajak saya bergabung dalam komunitas untuk menyelamatkan sungai di Jakarta. Saya tertegun.Ā Sungai di Jakarta ? Ciliwung ? Yang airnya keruh kuning mbleketeg begitu ? Batin saya...Waaah....berat nih urusannya. Padahal saya tahu, sungai harus dijaga dan dipelihara. Karena saya juga pernah mengalami masa anak-anak yang tidak jauh dari kehidupan di sungai. Dan sungai Ciliwung pun pernah masuk di dalam daftar salah satu sungai yang cukup berkesan buat saya. Duluuuu....
Ciliwung, di awal tahun enampuluhan sempat menjadi tempat saya bermain-main. Kendati airnya sudah agak butek, karena sudah masuk ke wilayah perkotaan, tapi kenangan mengenai sungai yang membelah Jakarta itu menjadi salah satu catatan tentang sungai-sungai yang mengisi celah hidup saya.
Sekarang, ketika kesadaran akan pelestarian lingkungan sudah semakin merasuk ke dalam diri saya, maka urusan persungaian pun sering menjadi bahan perenungan. Hidup saya...sejak masa kanak-kanak memang selalu diwarnai dengan kecipak-kecipuk air di sungai. Yang mengalir membelah kota-kota tempat tinggal saya. Yang membawa begitu banyak kenangan yang membekas hingga kini.
Memang. Cerita tentang sungai, tak akan lengkap tanpa menceritakan aktivitas luar ruang semasa masih kanak-kanak dulu...hehehe...Nggak lengkap rasanya jadi anak-anak, terutama yang rumahnya di dekat sungai, kalau tidak pernah mencelupkan kaki ke dalamnya. Dan yang jelas, anak-anak itu bukan hanya mencelupkan kaki, tapi pasti sekujur badan akan basah kuyup.
Kebetulan...dan beruntung sekali...saya pun termasuk di antara anak-anak yang suka cebur-ceburan di sungai itu....hahaha....
Masa kecil di Medan, saya nikmati dengan mandi-mandi di sungai Babura dan sungai Deli yang mengalir tak jauh dari rumah saya. Sepulang sekolah, saya dan beberapa teman yang memang hobby kelayapan akan pergi ke sungai. Pura-pura mencari anak ikan, terutama ikan kepala timah dan ikan cen-cen lainnya. Ikan cen-cen ini sebetulnya bukan nama asli, tetapi hanya sebutan bagi ikan-ikan kecil yang tidak jelas jenis dan keturunannya.
Setelah bosan mencari ikan. Biasanya kami akan mulai becanda. Memanjat-manjat pohon ceri yang menjuntai ke air. Dan mulai main dorong-dorongan...hihi...Kalau satu orang sudah tercebur ke air, maka yang lain pun akan diseret-seret dan dibawa ke tengah sungai. Lalu permainan pun dimulai. Saya, walaupun anak perempuan, tetapi sering lupa diri. Berkejar-kejaran di pinggir sungai dan main dorong-dorongan sampai kelelep sudah biasa...(untunglah ibu saya nggak tahu keaktifan anaknya yang super duper ini..hik hik..).
Tinggal nanti, ketika pulang ke rumah baru bingung. Baju masih setengah basah, karena tadi tercebur lengkap dengan baju rok yang sudah tidak tentu bentuknya lagi. Sudah morat-marit gak karuan. Lalu, untuk mengakalinya, saya akan berdiam dulu di halaman sambil nangkring di atas pohon di depan rumah. Untuk menganginkan baju sampai kering...Nggak usah heran, kalau kulit saya menjadi hitam legam, dan saya jadi sering masuk angin serta terserang batuk akibat memakai baju yang basah kuyup menempel di badan...hehehe...
Itu baru sungai yang ada di sekitar rumah. Ada juga sungai yang agak jauh dari rumah, dan harus menempuh perjalanan terlebih dahulu untuk sekedar mandi-mandi atau piknik di sana. Tak jauh dari Medan, ada sungai Mencirim dan sungai Tuntungan. Ketika kelas 5 SD, saya dan tiga orang teman sekelas ( semuanya perempuan, karena kami bersekolah di sekolah yang muridnya hanya perempuan), pergi ke sana naik sepeda. Jarak dari rumah ke kota kecil yang ada sungainya itu kurang lebih 15 km. Untuk jaman itu, jarak segitu lumayan jauh. Apalagi arahnya ke luar kota, menuju ke Brastagi di pegunungan. Yang masih sepi dan belum banyak rumah penduduk.
Dasar nekad, kami berempat senang-senang saja naik sepeda berboncengan. Dan secara bergantian mengayuh sepeda sambil bernyanyi-nyanyi riang. Tidak terasa lelahnya sama sekali , walaupun perjalanan itu membutuhkan waktu cukup lama, karena jalannya agak menanjak. Di jalan datar saja, mendayung sepeda model sport lama dan sepeda unta yang jangkung sudah setengah mati. Apalagi harus membonceng sambil menanjak...waah, seru deeeeh...namanya napas udah ngos-ngosan gak karuan.
Untunglah...saat itu orangtua kami memberi ijin. Jadi piknik ke sungai Tuntungan itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan...sampai hari ini. Dari tiga sahabat saya itu, ada dua orang yang sekarang masih sering contact dengan saya. Bahkan kami sering bertemu dan bepergian bareng, sambil mengenang kebadungan masa lalu...huahahaha...
Sungai-sungai kecil lain, seperti anak sungai Mencirim, adalah tempat saya bermain dengan sahabat-sahabat anak tetangga. Karena sungainya agak dangkal, kami bisa menangkap udang kecil dan ikan-ikan di situ. Alatnya adalah serok dari dapur... (hahaha...ngaco banget), dan sehelai sarung yang diikat sebelah ujungnya. Kalau menggunakan sarung, biasanya kami akan mendapat ikan atau udang lebih banyak.
Hasilnya, udang dan ikan kecil-kecil ini kami goreng atau dibakar begitu saja dengan menggunakan tungku api di halaman rumah sahabat saya. Dimakan dengan nasi panas yang masih mengepul, ikan dan udang rebon ini luar biasa enaknya. Apalagi kalau sehabis itu bisa memetik kelapa yang masih muda...woooww...dunia pun jadi berkilauan dan serasa berada entah dimana...hmm...mantaappss....
Hidup saya belum berhenti di sungai-sungai sekitar Medan. Ketika orangtua saya ditugaskan di kota Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, lagi-lagi saya sangat beruntung. Di belakang rumah saya, ada sungai Batang Ayumi yang masih sangat jernih airnya. Sungai ini membelah kota Padang Sidempuan, dengan sebuah jembatan yang mengantarainya. Saya langsung jatuh cinta pada kota ini sejak pertama kali datang. Melihat sungainya, mata saya langsung berbinar-binar. Dan target saya berikutnya adalah berenang di dalamnya...
Keinginan saya itu terkabul tidak lama kemudian. Saya mendapatkan teman dan sahabat baru dari sekitar rumah. Bersama mereka, saya menghabiskan waktu liburan untuk bermain hampir sepanjang hari di pinggir sungai atau berenang-renang sambil mencari anak ikan. Sayangnya karena sungai ini di hulu dan masih berbatu-batu, ikannya hanya ada di lubuk yang dalam. Kami tidak berani masuk ke lubuk, karena kondisinya yang cukup berbahaya bagi anak-anak. Sesekali saja kami mendapat ikan. Itupun pemberian orang yang berhasil memancing di lubuk. Dan ikan sejenis ikan baung itu pun kami makan beramai-ramai...hanya dengan dibakar seadanya di pinggir sungai.
Di seputar kota Sidempuan banyak sungai-sungai yang sempat saya ceburi juga. Ketika mengikuti perjalanan dinas orangtua saya ke daerah-daerah, kami memanfaatkan waktu untuk bermain di sungai. Lalu pura-pura terpeleset, dan akhirnya bisa mandi di sungai...hahahaha...Sungai Aek Godang di Panyabungan, sungai kecil di perkebunan Marpinggan dan perkebunan Simanunggang adalah beberapa sungai yang tak luput dari target sasaran cebur-ceburan kami. Kayaknya, saat itu, tidak ada waktu yang terbuang untuk menikmati jernihnya air sungai yang mengalir di pegunungan Bukit Barisan.
Pindah dari Padang Sidempuan, orangtua saya menetap di Kota Tanjung Balai Asahan. Di tepi sungai Asahan. Lagi-lagi saya hidup di sekitar sungai. Tapi berbeda dengan sungai-sungai yang ada di pegunungan, sungai Asahan yang mengalir membelah kota Tanjung Balai sudah sangat keruh airnya. Kami, saya dan teman sepermainan, tidak berani bermain di sana. Konon katanya, kala itu masih ada buaya yang kadang menunjukkan hidungnya di gosong-gosong di tengah sungai...heh heh...Maklum...kota Tanjung Balai hampir berada di muara sungai Asahan. Jadi kami hanya bisa memandang sungai dari jauh, dan sesekali hanya berani mencelupkan kaki di pinggirannya. Itu pun di dekat pasar atau pelabuhan yang ramai dan banyak orang hilir mudik.
Selama berada di sini, kami sering menempuh perjalanan dari Medan ke Tanjung Balai. Dan tidak jarang harus melalui kota-kota kecil dengan sungai-sungai lebar membelah kota yang mengalir ke arah Selat Malaka.Ā Satu pengalaman tidak terlupakan, ketika saya ikut dalam perjalanan pulang dari Medan dengan ayah saya. Saat itu kami tiba di kota Indrapura dan harus melewati salah satu anak sungai Bahbolon yang sedang banjir...(sungai itu sendiri cukup lebar..). Kami harus melalui sebuah jembatan yang terentang di atas sungai. Ayah saya dengan hati-hati terus menyetir mobil melalui jembatan yang sedang terendam banjir dan airnya mengalir deras....(sampai hari ini saya tidak habis pikir, kenapa kami harus tetap melewati sungai itu ???).
Untunglah...kami berhasil melewati jembatan itu, dan tiba dengan selamat di Tanjung Balai. Besoknya kami mendapat kabar, bahwa beberapa bagian jembatan tersebut hanyut tergerus arus. Dan hubungan antar kota dari Indrapura dengan kota terdekatnya sempat terputus beberapa hari....ooohhhh....Pindah dari Tanjung Balai, kami menikmati sungai-sungai lain di Pematang Siantar dan sekitarnya. Pematang Siantar, yang tak jauh dari Danau Toba, adalah kota tempat ayah saya ditugaskan berikutnya. Kami memiliki tempat mandi-mandi yang tersembunyi di sebuah sungai kecil dengan mata air yang sangat jernih di pinggir jalan antara Pematang Siantar dengan Parapat. Hampir setiap ada kesempatan, kami pergi berenang kemari. Dan kadang-kadang kami berpiknik sekeluarga... hehehe...
Selanjutnya ayah saya dipindahkan ke Aceh. Kami pun mengalami perjalanan spektakuler di berbagai kota dan sungai-sungai Aceh yang masih perawan. Hampir semua sungai yang merentang dari Langsa di Aceh Timur, hingga ke Aceh Besar, dan Aceh Barat sudah kami lalui. Bahkan kota Takengon di Aceh Tengah (sekarang menjadi Alas-Gayo), dan kota Kutacane di Aceh Tenggara. Ada yang memang terpaksa harus dilewati, karena hanya itulah jalan darat yang ada. Tetapi ada juga yang sengaja kami datangi untuk dinikmati kesejukan airnya.
Sungai Alas di tengah-tengah pegunungan di Alas dan Gayo pun tidak kami lewatkan. Dengan perahu lesung yang dibuat dari belahan batang pohon, kami menikmati berperahu di tengah derasnya sungai yang dalam tapi jernih itu. Konon sungai ini menjadi tempat yang sering dicari oleh penggemar olahraga rafting. Tapi kami menikmatinya, bukan sebagai tempat berkompetisi, melainkan untuk menempuh perjalanan ke beberapa hutan suaka yang harus diinspeksi oleh ayah saya. Dan asyiknya, kami tetap bisa menikmati indahnya alam liar yang belum tersentuh oleh siapa pun...woooww...
Dari Aceh, kami beruntung pindah ke Sumatra Barat. Yang terkenal juga dengan panorama alam yang indah dan sungai-sungai berarus deras yang luar biasa cantiknya. Dari mulai sungai di sebelah rumah, yang mengalir ke Samudra Indonesia, hingga sungai-sungai cantik dan air terjun di Lembah Anai. Semua menjadi tempat kami mencelupkan kaki dan sekedar berendam sambil bermain-main. Bahkan sampai mandi menyelam di dalam lubuk-lubuknya yang sejuk dan dalam.
Hidup kami ibaratnya selalu berkecimpung dengan sungai. Tiada tahun yang kami lewati tanpa menceburkan diri ke sumber-sumber air yang mengalir dari pegunungan. Di mana pun kami berada.
Belajar dari berbagai sungai yang pernah mengisi kehidupan saya, membuat saya merenung.Hidup bersama sungai, membuat saya selalu memperhatikan kehidupan di sekitar sungai-sungai itu. Ada sungai yang membuat saya sangat bahagia di masa kanak-kanak saya, tapi banyak juga yang membuat saya sedih karena kondisi sungai sudah berubah bentuk dan fungsi. Sungai yang semasa saya kecil dulu membuat kehidupan di sekitarnya menjadi makmur dan indah, sekarang menjadi sungai yang keruh dan kotor kena polusi.
Padahal kita semua tahu. Sungai adalah sumber kehidupan. Sungai mengalir untuk memberikan isinya kepada manusia. Tapi apa yang kita lakukan terhadap sungai ? Kita terlalu serakah dan tidak pernah sadar untuk menjaga kelestarian sungai. Perusakan yang dilakukan terhadap sungai, baik yang sengaja maupun tidak, membuat hidup kita menjadi tidak nyaman. Selain pencemaran sumber air, kita juga acap dilanda banjir. Yang tak lain adalah buah dari perbuatan kita sendiri.
Seandainya saja, kita semua dapat menjaga sungai...dan memberikan kehidupan bagi sungai. Maka kita tak hanya menikmati air yang mengalir indah...kita pun dapat mereguk airnya dan tidak kuatir untuk menceburkan diri dengan riang gembira tanpa rasa was-was...
Tapiiii....Adakah yang masih peduli ????
Jakarta, 23 Juni 2009 Salam selembut aliran sungai .... Ietje S. Guntur
Special note : Thanks untuk sahabatku Adith, yang sedang berkunjung ke Tuntungan...mengingatkan saya dengan masa kecil yang luar biasa indah...Thanks juga buat sahabat badung dari SD Antonius (Erna, Lolly, Ida)...yang sudah berani menempuh perjalanan luar biasa yang tak akan terlupakan...Juga buat Hamdan, Marwan dan Tuti di Padang Sidempuan...kalian mengenalkan sisi lain kehidupan sungai...Juga buat semua anak-anak Bagerpang...para penjelajah sungai Babura ( As, Anton, Agus, Len, Dorlen, Donty, Tiar, Ana, Deāi, Pendy, Bobol...dan semuanya)...juga anak-anak Pangpol dan Darmawangsa...thanks sudah menjadi sahabat-sahabat kehidupan yang mewarnai hidupku... Thanks juga buat sahabat-sahabat di Jakarta Green Monster...yang tak bosan berbuat hal penuh makna untuk kelestarian Sungai Ciliwung...
Ide : 1. Sungai adalah tempat mengalir air dari mataair hingga ke laut. 2. Sungai adalah perantara dan juga sarana untuk bergerak. 3. Banyak kenangan tentang sungai semasa kecil. Mulai dari Sungai Babura dan sungai Deli di Medan, sampai sungai Krueng Alas di Aceh, Aek Godang dan Aek Batang Ayumi di Padang Sidempuan dan Panyabungan. Juga sungai-sungai lain tempat bermain seperti sungai Simanunggang di tengah kebun karet, mata air KM 10 di Pematang Siantar. Sungai Asahan di Tanjung Balai. Sungai di Gunung Tua. Sungai Bahbolon di Indrapura yang hampir menghanyutkan saya dan ayah saya. Dan banyak lagi. 4. Semua sungai selalu sempat terhirup airnya dan memberi warna sensasi tersendiri. 5. Apa yang dapat kita pelajari dari sebuah sungai yang telah memberikan nafas kehidupan bagi kita ? 6. Inspirasi dari Adith, ketika tugas ke Tuntungan Medan. Ada kenangan bersama teman-teman SD naik sepeda dari Medan Baru ke Tuntungan hanya untuk mandi-mandi di sungai itu. Kebadungan masa anak-anak...(Erna, Ida dan Lolly).
 |